let's go get lost

Ketinggalan Kereta di Jakarta

sumber : infojalan-jalan.com

Kata orang, hidup di Jakarta itu keras. Jakarta hanya untuk orang-orang yang mau berjuang dan sigap. Tidak ada kata manja. Lambat sedikit akan tertinggal. Telat sedikit jalanan sudah macet. Orang-orang berlari. Mengejar transjakarta, berimpit-impitan di commuter line. Semuanya demi bekerja dan bertahan hidup di ibukota Indonesia bernama Jakarta.

Setelah 4 hari bertualang di Belitung, saya dan teman saya hendak pulang ke Jember. Tidak ada penerbangan langsung, sehingga kami harus singgah di Jakarta lanjut naik kereta ke Surabaya lalu ke Jember. Dengan kondisi keuangan yang menipis, kami memutuskan menggunakan kereta ekonomi yang tiketnya baru ada beberapa hari kemudian. Alhasil, kami mengunjungi rumah panggi (panggilan untuk adiknya ayah paling kecil, dalam batak Simalungun) saya di Depok, sekalian menunggu hari keberangkatan.

Kereta dijadwalkan berangkat pukul 11.00 WIB. Dari Stasiun Pasar Senen, kami menggunakan kereta Jayabaya dengan tujuan Surabaya, lalu mengambil kereta Probowangi ke Jember. Sehari sebelum keberangkatan, panggi sudah menyarankan untuk berangkat jam 08.00 WIB dari Depok, supaya perjalanannya santai dan tidak terburu-buru, lalu naik commuter line dan gojek menuju Stasiun Pasar Senen. Kami yang tidak tahu apa-apa mengenai Jakarta pun menurut saja, yang penting sampai di Stasiun Pasar Senen.

06.30 WIB
Keesokan paginya kami bangun dan bersiap-siap. Tas dan barang bawaan sudah di packing malam sebelumnya.

08.00 WIB
Setelah mandi dan sarapan, kami diantar menggunakan mobil menuju stasiun kereta Depok. Sesampainya di stasiun, sudah banyak orang yang lalu lalang kesana kemari. Katanya jam segini memang jamnya orang pergi kerja. Kami membeli tiket dan diantar nanggi (panggilan untuk istrinya panggi, dalam batak Simalungun) untuk naik kereta. Ada dua buah kereta yang berhenti dengan pintu terbuka. Dua-duanya sudah penuh. Saking penuhnya, saya rasa orang yang di dalam tidak perlu lagi berpegangan pada handle yang menggantung di kereta. Setelah menunggu lama, kereta tidak juga berangkat. Akhirnya kami mendapat info bahwa kereta sedang eror karena ada kereta yang anjlok.
Kami pun segera keluar dari stasiun yang masih penuh dengan orang lalu lalang. Belum lagi tas travel besar yang harus kami jinjing kesana-kemari. “Ada kereta yang anjlok. Tadi pagi ternyata udah ada beritanya di TV, tapi kita nggak liat karena Ale nonton kartun” Panggi langsung memberi informasi yang didapatnya dari petugas stasiun. Oalaah..

09.00 WIB
Kami buru-buru kembali ke mobil. Jalanan tambah ramai dan padat. Orang-orang pasti pada turun ke jalan mencari alternatif lain. Orderan gojek meningkat, mobil di jalanan pun meningkat. Akhirnya panggi memutuskan untuk mengantar kami dengan mobil. Namun perjalanan rasanya lama sekali, dimana-mana macet. Klakson disana-sini. Jam pun terus berputar menuju angka 11. Gawat. Kami mulai panik.

10.00 WIB
Akhirnya panggi menyarankan agar kami melanjutkan perjalanan ke Stasiun Pasar Senen menggunakan gojek, biar bisa ngebut dan nyalip. Kami menurut. Di bawah jembatan penyebrangan, kami menunggu dua pesanan gojek. Keadaan masih ramai, padat dan bising. Petugas kepolisian sibuk menertibkan mobil dan motor yang parkir menghalangi jalan, orang-orang sibuk mengejar waktu. Begitu juga saya, sibuk menunggu gojek vario putih.
“Mas Ari ya?” tanya saya kepada pengendara vario putih dengan jaket hijau khas gojek
“Ke Kalibata ya mbak?” tanyanya lagi sambil sibuk melihat gadgetnya
“Bukan mas, saya order ke Stasiun Pasar Senen tadi. Orderannya Laura”
“Loh, saya ke Kalibata mbak. Yang order Tina. Mbak Tina bukan?
“Ehhh salah berarti mas. Bukan saya.” saya cuman bisa garuk-garuk kepala, bingung. Mas gojek vario putih orderan saya tak kunjung datang.

10.20 WIB
Akhirnya saya bertemu dengan mas gojek saya yang ternyata dari tadi sudah kebingungan nyari pengordernya. 40 menit lagi kereta berangkat. Setelah berpamitan singkat dengan panggi dan nanggi, kami tancap gas menuju Stasiun Pasar Senen. Jalanan masih padat dan macet, belum lagi teriknya matahari. Untuk meredakan kepanikan, saya coba ngobrol dengan mas-mas gojeknya.
“Mas, pasar senennya udah dekat kan ya dari sini?”
“Wahh.. nggak mbak. Masih jauh dari sini, apalagi macet begini” jawab mas gojek dengan polosnya. Jleb! Sungguh jawaban yang tidak diinginkan. Bukannya jadi lebih tenang, saya malah makin panik.
Sambil menembus kepadatan Jakarta yang terik, saya mengatur rencana dengan teman saya yang sudah jalan di depan dengan gojek lain. Nanti begitu sampai di stasiun langsung lari ngeprint tiket ya cong, nanti aku yang ngecek keretanya. Oke, jawabnya.

11.00 WIB
“5 menit lagi nyampe nih mbak”, kata mas gojeknya. Benar saja, 5 menit kemudian saya sampai di depan stasiun. Saya langsung lari setelah membayar gojek dan mengucapkan terimakasih karena sudah mau ngebut demi penumpangnya yang mengejar kereta. Di depan, saya juga lihat teman saya yang juga lari-lari sambil membawa tas travel.
“Jayabaya udah berangkat, Mbak!” teriak seorang bapak kearah kami. Sampai sekarang, darimana bapak tersebut tahu kami mengejar Jayabaya masih menjadi misteri. Teman saya langsung mengambil antrian untuk print tiket, sedangkan saya lari ke bagian gate boarding kereta.

11.10 WIB.
“Jayabaya disini ya pak?” saya bertanya sambil ngos-ngosan
“Jayabaya udah berangkat barusan, mbak.” Jawab bapak petugas kereta. Saya sampai bertanya 3 kali kepada bapak itu, yang dijawab dengan jawaban yang sama.
Haaahh, tubuh saya lemas. Terbayang dua tiket kereta seharga Rp.100.000 melayang begitu saja. Airmata sudah mau keluar membayangkan perjuangan mengejar kereta dari pagi tadi. Teman saya datang dengan dua tiket yang telah di print di tangan, dengan muka yang sama lemasnya.
Kereta tidak bisa dikejar dan tiket tidak bisa direfund. Tidak ada tempat menginap untuk menunggu kereta keesokan harinya. Kami pun memutuskan untuk membeli tiket kereta Kertajaya untuk keberangkatan pukul 14.00 WIB. Masih kereta ekonomi, tapi harganya lebih mahal, Rp. 150.000. Jadwal sampainya masih bisa mengejar kereta Probowangi yang dijadwalkan berangkat pukul 04.00 WIB dari Surabaya. Untung saja sebelumnya panggi memberikan uang jajan, lumayan untuk beli tiket kereta baru. Tuhan memang tidak pernah memberi cobaan diluar kemampuan anakNya, hehe.

12.30 WIB
Kami mendapat tiket kereta Kertajaya.

13.00 WIB
Makan siang. Beli seporsi soto dengan tambahan nasi satu bungkus. Murah dan tetap kenyang.

14.00 WIB
Berangkat dari Stasiun Pasar Senen menuju Surabaya.

Keesokan harinya, 02.00 WIB
Sampai di Surabaya.

04.00 WIB
Berangkat dari Stasiun Pasar Turi menuju Jember.

09.00 WIB
Finally, sampai di Jember dengan selamat.


Jakarta sungguh memberikan kami pengalaman yang luar biasa.


- Juni, 2016
Share:
Read More

[Book Review] The Scent of Sake - Joyce Lebra (2009)



Ketika membaca judul dan sinopsis novel diatas, saya langsung tahu kalau novel ini mengambil cerita dari Jepang. Jujur saja, sejak mencoba membaca novel karya Haruki Murakami, ketertarikan saya tentang Jepang meningkat. Tapi ketertarikan akan buku ini semakin meningkat ketika melihat nama penulisnya, Joyce Lebra, yang -menurut saya- sama sekali tidak ke jepang-jepangan.

Setelah melihat profil penulis dan sedikit browsing di internet, ternyata Joyce Lebra adalah seorang profesor di Universitas Colorado yang diakui sebagai ahli dalam kebudayaan perempuan Jepang, India dan Asia. Beliau tinggal di Jepang selama 10 tahun untuk melakukan penelitian tentang sejarah Jepang. Proses yang panjang memang mampu menghasilkan karya yang mengagumkan. Dalam The Scent of Sake, tulisan Joyce hidup dan mengalir, seperti ia pernah hidup di setting ceritanya. Ia menulis tentang kebudayaan, sejarah, arsitektur sampai perkembangan bisnis sake dari masa ke masa.

Buku ini bercerita tentang Rie, seorang anak perempuan yang merupakan pewaris bisnis sake keluarga Omura. Dengan setting waktu berpuluh-puluh tahun sebelum Edo berubah nama menjadi Tokyo, Rie hidup di sistem budaya Jepang kuno. Sebagai pewaris bisnis sake, Rie mempunyai kewajiban untuk meneruskan bisnis turun-temurun yang telah dikelola keluarganya selama 9 generasi, namun kehadirannya sebagai seorang anak perempuan membuat gerak-geriknya sangat terbatas. Pada masa itu, seorang anak perempuan haruslah berada di dapur. Urusan sake adalah urusan laki-laki. Bahkan kepercayaan yang berkembang mengatakan bahwa perempuan mampu membuat sake menjadi masam. Bagaimana mungkin Rei bisa mengemban tugasnya tanpa harus ikut campur sedikit pun tentang bisnis sake keluarganya?

Melalui Rei, Joyce mengangkat isu sosial terkait perbedaan gender yang sudah tertanam pada masa itu. Layaknya Kartini di Indonesia, Rei yang cerdas menempatkan dirinya sebagai perempuan yang tetap menjalankan kodratnya sambil melibatkan diri dalam keputusan bisnis tanpa berusaha terlihat ikut campur. Perjuangan Rei diwarnai dengan berbagai kesulitan, bahkan Rei harus rela mengorbankan kebahagiaannya sendiri demi kemajuan bisnis sake keluarga Omura.

Joyce juga bercerita tentang tradisi dalam bisnis sake yang dianggap sangat dihormati di daerahnya pada masa itu. Segala bentuk persaingan, strategi, inovasi dan keberanian dalam mengambil keputusan diceritakan dengan konfliknya sendiri-sendiri, juga tentang kesetiaan dan loyalitas. Kemampuan untuk cepat beradaptasi dengan perkembangan jaman dan modernitas diceritakan seiring dengan berakhirnya zaman Edo yang ditandai dengan masuknya bangsawan dan masyarakat yang semakin maju.  Sebuah bisnis turun-temurun yang diikat tradisi dengan ketat perlahan-lahan dikenalkan dengan bisnis sampingan dan istilah perusahaan perseroan. Bukan hanya dalam hal bisnis saja, pengaruh budaya barat dalam hal teknologi dan arsitektur juga diangkat ke dalam cerita.

Banyak hal baru yang saya dapat tentang budaya Jepang dalam novel ini, termasuk istilah-istilah dalam Bahasa Jepang yang diartikan melalui footnote. Misalnya kura yang berarti rumah sake, hibachi yang berarti perangkat pemanas tradisional Jepang, tatami yang berarti jenis tikar yang digunakan sebagai bahan lantai tradisional gaya Jepang, zabuton yang berarti sejenis bantal yang digunakan untuk duduk dilantai, kurabito yang berarti sebutan untuk pembuat sake, dan banyak lagi lainnya. Sangat menarik, menurut saya, ketika budaya dan sejarah yang nyata diperkenalkan melalui suatu kisah fiksi yang menginspirasi.

Pasang surut kehidupan Rei diceritakan secara cepat dan mengalir tanpa membiarkan pembaca kehilangan satu moment pun. Novel ini bercerita tentang kehidupan berpuluh-puluh tahun lamanya, seperti perjalanan hidup seseorang yang selalu diwarnai suka dan duka. Sampai halaman akhir, saya tidak menemukan konflik yang klimaks dan berujung penyelesaian seperti novel-novel lainnya, juga tidak ada adegan-adegan drama yang berlebihan. Setiap bagian cerita mempunya konflik, klimaks dan penyelesaiannya sendiri, tanpa ada yang menonjol berlebihan. Sekilas mungkin novel ini terasa berat dan membosankan, namun di situlah letak kenikmatan membacanya. Kita seakan-akan disuruh duduk santai menikmati kehidupan Rei; kegelisahannya, kebijaksanaannya, kecerdasannya, keibuannya, ketenangannya, ketegasannya dan keberaniannya dengan balutan sejarah dan budaya Jepang dalam proses memperjuangkan mimpi dan kebahagiaannya.



Juni, 2016
Share:
Read More

Masjid Muhammad Cheng-Hoo, Merayakan Bhineka Tunggal Ika Melalui Arsitektur


“Kalau jadi Hindu jangan jadi India, kalau jadi Islam jangan jadi Arab, kalau jadi Kristen jangan jadi Yahudi. Tetaplah jadi orang nusantara dengan budaya nusantara yang kaya raya.” -Soekarno Hatta

Salah satu hal yang saya sukai dari kegiatan traveling adalah saya bisa menemukan banyak hal baru. Apakah itu sesuatu yang kita lihat, hirup, raba atau rasakan. Seperti Masjid Muhammad Cheng Hoo yang berlokasi di Kota Jember, bangunan ini merupakan bangunan masjid pertama yang saya lihat dengan arsitektur khas Tionghoa. Masjid yang umumnya berarsitektur Islam, kini hadir dengan arsitektur khas Tionghoa yang keberadaan penduduknya di Indonesia, khusunya di kota Jember, masih minoritas, hanya sekitar 10% dari total penduduk kota Jember.

Walaupun pada masa sekarang arsitektur masjid sudah lebih bervariasi dan mengangkat budaya lokal, namun kebanyakan masjid di Indonesia masih menganut arsitektur khas Islam yang berasal dari Timur Tengah dengan kubah dan menara. Namun berbeda dengan Masjid Muhammad Cheng Hoo, bangunan ibadah yang dibangun umat Islam keturunan Tionghoa yang ada di Jember ini mengangkat ciri khas arsitektur Tionghoa menyerupai Klenteng. Eksteriornya berwarna merah, hijau dan kuning dengan atap limasan yang ujungnya melengkung. Menara yang biasanya ada pada bangunan masjid menyerupai pagoda segi delapan yang desainnya masih harmonis dengan bangunan masjid. Kolom strukturnya juga  memakai ornamen ragam hias dengan warna merah dan kuning keemasan.

Tidak melupakan arsitektur Timur Tengah, masjid Muhammad Cheng Hoo memakai lengkungan sebagai pintu masuk dan kaligrafi di bagian dinding dan interiornya. Menurut informasi yang didapat dari jemberonline.com, masjid ini juga sarat makna pada setiap ukurannya. Bangunan berukuran 11m x 9 m yang berarti angka 11 bahwa ukuran Kabbah saat dibangun dan 9 sebagai lambang Wali Songo yang sangat berjasa besar dalam dakwah Islam di Jawa.

Masjid Muhammad Cheng Hoo

Interior Masjid Muhammad Cheng Hoo. Perpaduan unik antara kaligrafi dengan warna-warna khas arsitektur Tionghoa

Kaligrafi pada dinding dan pagoda segi delapan

Melihat keadaan Indonesia yang sangat kaya akan perbedaan, bangunan ini dipandang sebagai sesuatu yang sangat unik. Melalui arsitekturnya, Masjid Muhammad Cheng Hoo seolah-olah berpesan “walaupun kita berbeda-beda tetapi tetap satu jua”. Masjid Muhammad Cheng Hoo mampu merayakan Bhineka Tunggal Ika melalui arsitektur, karena Islam bukan berarti Arab dan Kristen bukan berarti Yahudi. Ketika arsitektur saja bisa menyatukan perbedaan dengan baik, kenapa kita sebagai manusia tidak?


Juni 2016


Share:
Read More

God is So Good!



Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobali melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai, Ia akan memberikan kapadamu jalan keluar sehingga kamu dapat menanggungnya. – 1 Korintus 10:13

Aku mengangkat kepalaku dari alkitab pada sesi pembacaan epistle, tersadar bahwa Tuhan sedang memberikaku kekuatan melalui kitab Korintus yang baru saja kubaca. Ku hela nafas berat, sesak. Jujur saja, minggu pagi ini terasa berat. Sangat berat sampai-sampai takut menghadapi hari esok. Satu tujuan datang ke gereja kali ini hanya untuk menenangkan diri dari masalah yang sedang menghadang jalan, berharap mendapat ketenangan hati dari Sang Pencipta. Lalu ketika pemimpin ibadah mengajak berdoa, kupanjatkan doa dengan khusyuk dan sungguh-sungguh, kusampaikan semua kekhawatiran dan ketakutanku, tanpa sadar air mata mengalir di pipi.

Mungkin bagi seseorang, pangan menjadi masalah hidupnya. Tetapi bagi orang yang lain, bukan pangan melainkan sandang. Satu hal yang penting adalah bagaimana kita menyerahkan segala masalah kita kepada Tuhan dan datang kepadaNya. Iman mendatangkan pengharapan. Dan ketika pengharapan itu ada, masalah kita hilang saat itu juga. Mungkin orang lain akan bersusah hati ketika menghadapi masalah yang sama, namun orang yang berpengharapan tidak. Ia tetap bersukacita walaupun tahu masalah tetap ada, karena yakin Tuhan akan menguatkan dan menolongnya.” Khotbah Pendeta yang diambil dari Yesaya 55 : 1-9 terngiang di kepalaku.

Tertegun, aku merasa Tuhan berbicara secara pribadi lagi, kali ini melalui Pak Pendeta. Aku menghela nafas untuk kedua kalinya. Ah, betapa baiknya Tuhan itu. Bahkan disaat aku jauh dariNya pun, Dia masih mau berbicara kepada anaknya yang berdosa ini. Saat aku menduakanNya dengan hal-hal duniawi, Ia masih mau menegur dan mengingatkan. Mungkin cobaan ini hanyalah caraNya untuk meruntuhkan kesombongan tentang anggapan ‘aku baik-baik saja tanpa dekat dengan Tuhan’. Atau memberi kesadaran untuk segera menyendengkan telinga kepada perkataanNya, “Jangan khawatir!”

Peristiwa ini membuatku merenungkan hal lain. Seberapa mau kita tetap disiplin dalam doa dan saat teduh saat kita berada di zona nyaman? Kesombongan membawa kita terbang jauh dari Tuhan, melepaskan genggaman tangan kita dari genggaman tanganNya yang selalu menggenggam kita erat.

Melalui perkataan-Nya pagi ini muncul rasa rindu untuk kembali intim denganNya. Ku panjatkan permohonan maaf karena baru datang disaat sedang berada diposisi bawah roda kehidupan. Ku naikkan syukur untuk segala hal yang terjadi dalam hidup, baik atau buruk. Sambil memohon kekuatan dari Tuhan, aku membuka mata dan merasa hati lebih tenang. Lega. Berpengharapan. Mungkin hari esok akan menjadi lebih buruk, tapi aku tahu Tuhan siap menolongku.

“Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepadaKu; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud.” Yesaya 55 : 3

Terima kasih Tuhan, Engkau sungguh baik.



sumber gambar : quotlr.com
Share:
Read More

Kopi dan Arsitektur



Huah, akhirnya bisa nulis juga. Pertama, perkenankan saya meminta maaf untuk tulisan Virtual Trip to Nusa Penida yang belum selesai, padahal deadlinenya Februari kemarin, huhuuu. Kedua, permintaan maaf untuk diri sendiri yang ga nepatin janji untuk nulis dan posting di blog ini minimal sebulan sekali. I had missed the March one. Alasannya? Kalian akan tahu setelah membaca habis tulisan ini.

Beberapa minggu yang lalu, sebuah pikiran tercetus dikepala saat menonton iklan produk kopi di TV. Iklan kopi dengan jargon “Lebih Berani Kopi” ini hadir dengan model seorang arsitek yang kehilangan semangat dan fokus. Dengan gantengnya arsitek tersebut menyeruput kopi sambil berkata “Langsung melek!” dan kemudian lanjut kerja lagi. Iklan-iklan yang begini selalu dikaitkan dengan arsitek.

Setelah dilihat-lihat lagi, salah satu iklan produk vitamin penambah tenaga juga memakai profesi arsitek sebagai modelnya, iklan produk minuman isotonic juga. Kim Do Jin, arsitek -ganteng-dan-cool-tapi-lucu dalam film A Gentleman’s Dignity juga terlihat beberapa kali meminum semacam vitamin C yang dilarutkan ke dalam air. Mungkin untuk menjaga badannya tetap vit (kalo contoh yang ini berdasarkan pengamatan dan pendapat pribadi sih. Btw, drama korea ini recommended banget untuk ditonton. Lucu lucu romantic gimana gituuu, hehe)

Sebegitu melelahkannya kah menjadi seorang arsitek? Tidak tahu, karena aku sendiri belum menjadi arsitek. Tapi kalau ditanya sebagai mahasiswa arsitek, jawabannya adalah ya, cukup melelahkan. Terutama pada saat masa studio Tugas Akhir (TA) seperti yang sedang dijalani saat ini. Bisa dibilang masa studio TA itu seperti proses persalinan ibu-ibu yang sudah bukaan 9, puncaknya dari rasa semua rasa sakit selama persalinan. Rasanya paling sakit jika dibandingkan dengan studio-studio sebelumnya, hehe..

Bayangkan saja, pada periode TA kali ini, kita harus stay selama 43 hari di kampus dari jam 07.30-17.30 dari Senin sampai Sabtu. Kita juga harus gambar, asistensi, revisi, lalu gambar lagi, asistensi lagi dan revisi lagi. Belum lagi setiap 2 minggu sekali ada evaluasi yang pengumpulannya harus tepat waktu. Dengan banyaknya gambar kerja yang harus dibuat, malam harinya sepulang studio pun harus lanjut begadang demi terpenuhinya setiap materi yang ada di form nilai. Makin menghitam kantong mata adek, bang. Menulis pun tak sempat. Tapi ada juga sisi positifnya, selama masa TA ini banyak yang berkomentar "Kok kamu makin kurus ya Vi?" Horeeee..!!

Untuk mencapai sebuah gelar sarjana memang dibutuhkan kerja keras. Tentu saja ini bermanfaat untuk mempersiapkan kita menjadi seorang arsitek nantinya, paling tidak melatih mental dan disiplin saat bekerja sama dengan rekan kerja atau menghadapi client. Apalagi umumnya salah satu syarat untuk bekerja dibidang arsitektur adalah ‘mampu bekerja dibawah tekanan’. Ternyata sakitnya tuh ga berhenti sampai disini.

Tak heran banyak orang yang menganggap jurusan arsitektur jurusan yang keras, lebih banyak mahasiswa cowok daripada ceweknya. Mungkin image ini juga yang mempengaruhi iklan dan film diatas. Tidak heran juga kalau secangkir kopi bisa jadi teman terbaik mahasiswa arsitektur, terutama untuk yang matanya sudah merem melek pengen tidur tapi gambar belum selesai dan batas pengumpulan tugas tinggal 6 jam lagi, atau untuk yang lagi suntuk dan membutuhkan ide segar. Seperti iklan di atas, langsung melek! Lalu bagaimana dengan nasib mahasiswa yang ga bisa minum kopi -seperti saya-? Kopi bukannya membuat melek tapi malah membuat deg-degan. Ah, apa daya. Dear kopi, mungkin kita tidak dijodohkan untuk menjadi teman baik.



sumber gambar : lifestyle.dreamers.id 
Share:
Read More

Beautiful Splash, Pasih Andus

Sudah aku bilang sebelumnya, perjalanan 1,5 jam melalui tanjakan dan jalan berbatu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan keindahan yang akan kita lihat di daerah ini. Setelah disambut dengan keindahan Batu Bolong dan serunya bermain air di Angel’s Billabong, aku akan mengajak kalian ke tempat lain yang dekat dengan Pasih Uug, yaitu Pasih Andus. Kata temanku yang berasal dari Nusa Lembongan, andus itu berari asap. Jadi, apakan pemandangan selanjutnya yang kita lihat adalah asap? hehehe, who knows. Aku yakin, asap saja bisa dibuat indah di alam, apalagi kamu.. iya kamu… *eehhh #salahfokus

Oke, back to the topic. Pasih Andus jaraknya tidak terlalu jauh dari pantai Batu Bolong, walaupun tidak sedekat Angel’s Billabong. Perjalanan tidak bisa dilalui dengan berjalan kaki, melainkan naik motor sekitar 10 menit. Mengambil arah berlawanan dengan jalan pulang, kita berjalan ke arah laut. Kita bisa mengikuti signage yang ada. Jalan yang kita lalui masih jalan tanah kecil yang sedikit berbatu. Kita hanya perlu mengikuti jalan sampai mentok dan melihat gazebo kecil. Setelah itu kita harus berjalan kaki sedikit menuruni bukit. Dibawah sana, kamu tidak akan melihat pantai melainkan batu karang yang dijungnya terdapat hempasan ombak keren akibat gelombang air laut yang menabrak dinding karang. Splash!
Pasih = Pantai, Andus = Asap





Yang menarik dari Pasih Andus ini adalah kita tidak pernah menduga kapan cipratan air bakalan datang, ataupun berapa tinggi air yang terhempas. Tidak jarang orang berteriak kegirangan ketika tiba-tiba suara ombak bergemuruh datang diikuti dengan hempasan air dengan tinggi belasan meter dan kemudian menghilang seperti asap, mungkin rasanya seperti menang lotre, hahaha. Tapi hati-hati ya guys, karang disini berbeda dengan karang yang kita temui di Angel’s Billabong. Karang disini berwarna hitam dan lebih tajam. Tetap perhatikan langkah kalian walaupun lagi asik berpose. Disekitar Pasih Andus ini juga ada gazebo kecil. Setelah puas melihat-lihat di Pantai Batu Bolong, main air di Angel’s Billabong, kita bisa gunakan gazebo ini untuk bersantai menyantap bekal sambil menikmati suara ombak dan pemandangan cipratan air di sudut kumpulan batu karang.
Share:
Read More

The Natural Infinity Pool, Angels’s Billabong

Perjalanan jauh yang kita tempuh dari Desa Batu Nunggul menuju desa Bunga Mekar terbayar sudah dengan banyaknya keindahan alam yang dapat kita temukan disini. Setelah disambut dengan keindahan Pantai Batu Bolong yang menyegarkan mata, sekarang saatnya kita bakal menyegarkan tubuh kita, alias main air!! Di perjalanan ini, aku akan ngajak kalian mandi-mandi (kalo orang Medan bilangnya gitu), berenang, berendam, main air, atau apalah itu namanya, di sebuah kolam infinity yang terbentuk alami tanpa campur tangan manusia.

Emn, bicara tentang infinity pool, jadi infinity pool adalah kolam tanpa batas yang dirancang seolah-olah gak ada tepinya, karena air di kolam tersebut dibiarkan keluar melewati batas kolamnya. Pernah liat kolam renang yang ada di Hanging Garden Ubud? Di tempat itu terdapat sebuah infinity pool yang menghadapkan kita ke hijaunya alam yang luas. Atau contoh lainnya di pemandian air panas yang ada di kaki Gunung Batur. Kolam pemandian air panasnya dirancang tanpa batas sehingga kita seolah-olah bersentuhan langsung dengan air di Danau Batur. Dan begitulah tempat yang akan kita datangi sebentar lagi. Kalau contoh diatas hasil tangan manusia, namun yang satu ini hasil tangan langsung dari Sang Pencipta.

Letaknya tidak jauh dari Pantai Batu Bolong, dapat dicapai dengan berjalan kaki di jalan setapak yang terdapat di seberang Pantai Batu Bolong. Setelah melewati jalan setapak, kita akan disuguhnya pemandangan yang berbeda lagi. Bukan bolongan batu dengan birunya air laut, melainkan tebing-tebing batu karang besar berpori berwarna coklat. Tempat kita berpijak tidak lagi tanah, melainkan batu karang dengan beberapa genangan air kecil. Lalu setelah berjalan lagi ke arah laut, kita akan menemui sebuah infinity pool yang bersembunyi di bawah diantara tebing karang. Angel’s Billabong, namanya secantik rupanya. Tempat ini adalah muara akhir daru sungai Nusa Penida sebelum ke lautan lepas. Airnya jernih sampai kita bisa melihat apa yang ada di dasarnya, di bagian ujungnya terdapat percikan air yang dihasilkan dari hempasan ombak yang mneghantam tebing karang, membuat kita tidak sabar untuk segera turun kebawah menikmati sejuknya air. Hmm, ayo kita nyeburr sekaranggg!!
Berjalan kaki menuju Angel's Billabong
Penuh dengan karang
Ini dia, bidadari yang tersembunyi di alam Nusa Penida :D
Seperti kolam renang pada umumnya, ternyata Angel’s Billabong juga menawarkan kolam dengan berbagai kedalaman. Bagi kamu yang tidak bisa berenang, kamu bisa sekedar berendam di bagian sebelah kanan atau menikmati percikan ombak di bagian ujung Angel’s Billabong. Bagi yang ingin merasakan kedalamannya, kamu bisa berenang di bagian kiri sambal duduk di batu karang yang ada di bagian sana.
Bermacam-macam aktivitas bisa dilakukan disini.
Dari berenang..
Mengambang..
Atau sekedar menunggu moment percikan besar ombak datang untuk segera mengabadikannya.
Berfoto ceria..
Berfoto ketika ada yang terjatuh kedalam air saking hebohnya..
Atau berfoto sambil memeriksa duri yang tiba-tiba nancep di kaki, hahaha
Seru sekali!! Tempat ini masih alami dan tersembunyi sehingga belum banyak orang yang berkunjung kesini, seperti punya sendiri saja. Private-natural-infinity-pool. Apalagi yang kurang coba? Berkunjung kesini memang membuat kita tidak ingin pulang, tapi jangan lupa untuk ikutin perjalanan kita selanjutnya disini ya.
Share:
Read More

Disambut Keindahan Pantai Batu Bolong

Selamat datang di Nusa Penida! Setelah kemarin melakukan persiapan (bisa baca disini), akhirnya kita sampai di Nusa Penida dengan selamat. Perjalanan yang seru, mengarungi laut dengan fast boat dari Pantai Sanur. Untuk membuatnya abadi, aku iseng mendokumentasikan perjalanan tadi. Hehehe.
Bersiap sebelum berangkat
Proses naik fast boat. Tipsnya pakai celana pendek aja, karena kita bakal basah-basahan
Mengarungi lautan dengan fast boat
Tiba di Nusa Penida. Serasa di eliminasi ya? hehe      
Oke, tak perlu berlama-lama, langsung saja kita esekusi indahnya Pulau Nusa Penida ini. Pertama, aku akan ajak kalian ke Pantai Batu Bolong/Pasih Uug. Pantai ini terletak di Banjar Sumpang, Desa Bunga Mekar, sekitar 1,5 jam perjalanan menggunakan motor dari desa Batu Nunggul (tempat berlabuhnya kapal Roro dan beberapa fast boat). Tempat ini dapat ditempuh dengan perjalanan dari Desa Batu Nunggul, melewati Desa Ped, Desa Toyapakeh lalu Desa Bunga Mekar. Dan seperti yang aku sebutkan di tulisan sebelumnya, medan menuju Pantai Batu Bolong juga tidaklah mudah. Setengah jalannya belum diaspal dan berbatu. But, trust me. Kalian akan berdecak kagum setelah melihat apa yang akan kita temukan disana. Whoooo…

Sepanjang perjalan kita akan melewati pesisir pantai, lalu menuju jalan menanjak dan berkelok. Di daerah pesisir panta kita akan menemukan pemandangan tepi laut dengan beberapa gubuk kecil di tepinya. Gubuk ini digunakan sebagai gudang untuk menyimpan hasil panen rumput laut yang sekarang merupakan mata pencaharian utama masyarakat Nusa Penida yang tinggal di pesisir pantai. Tidak jarang juga terlihat petani rumput laut yang sedang memanen ladang rumput lautnya, dengan topi kerucut dan celana yang digulung selutut, tenggelam dalam petak-petak rumput laut di tepi pantai. Sesekali tercium bau amis ketika melewati rumput laut yang sedang dijemur, berwarna hijau dan putih. Hhmm, pemandangan yang jarang kita dapatkan.

Setelah melewati jalan kecil menanjak dan berkelok, bukit-bukit dengan tanaman gersang yang menguning, dan jalan tanah berbatu, akhirnya kita sampai di Pantai Batu Bolong. Tidak usah takut tersesat, karena sudah ada signage -walaupun masih sangat sederhana, berupa potongan papan yang dicat dan ditulis dengan tulisan tangan- di beberapa persimpangan jalan. Daaaaan, ini dia keindaha alam yang menyambut kita di Nusa Penida pada perjalanan ini, Pantai Batu Bolong.
Pantai Batu Bolong/Pasih Uug


Wooow, luar biasa bukan? Indahnya biru laut yang mengalir diantara bolongan batu raksasa jauh dibawah sana -that’s why tempat ini disebut dengan Pantai Batu Bolong- mempu membuat kita terkagum-kagum, bagaimana bisa Tuhan menciptakan alam seindah ini. Jaraknya yang jauh kebawah membuat kita hanya bisa mengagumi dengan melihatnya, tanpa menjamah ataupun menginjakkan kaki diatasnya. Hhmmm, tanpa sadar aku memejamkan mata. Heran, apalagi yang disembunyikan si Pulau Nusa Penida, kalau kunjungan pertama saja sudah seindah ini?

Oke, setelah puas melihat dan berteriak kagum, saatnya kita mengambil foto. Eiitts, tapi hati-hati ya. Saking alaminya, tempat ini sama sekali belum mempunyai pagar pembatas antara daratan dan jurang. So, keep watching your step!
Bisa foto rame-rame...
atau foto candid kekinian...
atau foto sendiri untuk nambahin koleksi galeri instagram? :D
Setelah asik menikmati pemandangan di Pantai Batu Bolong, kita gak langsung pulang, guys. Masih banyak tempat -yang gak kalah kerennya- yang bisa kita eksplor di derah ini. Sedikit nakal dan penasaran, kita bisa coba eksplor daerah ini lebih jauh. Bila kita berjalan terus ke arah laut sebelum belok ke Pantai Batu Bolong, kita akan menemui daerah dengan view begini.

 
 
 
  
Keren. Bangett. Kannn.. Kita sedang berada beratus-ratus meter diatas permukaan laut dengan pemandangan bukit karang dan langit yang luar biasa. Alam Indonesia memang sangat indah. Dan kalian bisa ikutin terus virtual trip selanjutnya disini.
Share:
Read More

Virtual Trip to Nusa Penida


 "Welcome to my paradise, where the sky so blue, where the sunshine so bright.." - Welcome to My Paradise, Steven and the Coconut Trees

Welcome February! Kalau bagi orang-orang Februari itu adalah bulan cinta-cintaan dimana para cewek berharap dikasih bunga, cokelat, boneka atau iphone six(?) dari para cowok, tapi bagiku bulan ini adalah bulannya kita jalan-jalan. Yeaah!! Selama Februari aku bakalan ngajakin kalian semua untuk jalan-jalan ke Nusa Penida, selama sebulan penuh! Seru ga? Seru dong yaa. Namun untuk mengatasi kendala jarak dan waktu luang kita semua yang berbeda, aku dan kalian bakalan jalan-jalan via dunia maya. Yap, VIRTUAL TRIP TO NUSA PENIDA melalui blog ini.

source : google.com


Udah pada tahu kan ya Nusa Penida itu apaan? Nusa Penida itu adalah salah satu pulau kecil di dekat pulau Bali yang termasuk dalam kabupaten Klungkung di provinsi Bali. Pulau ini sangat kecil dibandingkan dengan Bali. Eitss, tapi jangan salah. Tempat ini merupakan salah satu surganya tempat wisata. Aku sudah melihatnya dengan mata kepala sendiri pada saat KKN selama satu bulan, pulau ini memang keren dan masih alami bangett. Sayangnya belum banyak orang yang mengetahui keberadaan tempat wisata di pulau ini, bahkan ada anggapan bahwa di pulau ini tidak ada apa-apa. Hmm.. kalian salah besar, guys.

Jadi, untuk kalian yang penasaran dengan keindahan pulau Nusa Penida, aku akan mengajak kalian ke tempat wisata yang ada di Nusa Penida melalui virtual trip di blog ini. Setiap perjalanan akan di-posting 3-4 kali seminggu dengan tempat wisata yang berbeda-beda sampai akhir bulan Februari. Untuk yang mau ikutan, kalian tinggal berkunjung ke blog ini, tapi dengan satu syarat ya. Rahasiakan tempat ini dari para alayers yang dapat merusak kealamiannya! Hehehe

Oke, jadi rencananya kita akan berangkat hari ini. Apa saja yang harus disiapkan untuk menjelajah Nusa Penida? Let's check these lists out!


1.      Transportasi

-       Bagi kalian yang berdomisili di luar Bali, kalian bisa datang dulu ke Bali. Akses ke Nusa Penida dari Bali adalah dengan menggunakan kapal fery dan fast boat.  Bagi kalian yang ingin membawa motor atau mobil, kita bisa menggunakan fery dari pelabuhan Padang Bai yang terletak di Karangasem. Hanya terdapat satu fery yang digunakan untuk menghubungkan pulau Bali dan pulau Nusa Penida, yaitu kapal Roro (biasanya digunakan untuk mengangkut logistik, makanan atau bensin) dan jadwal pulang perginya hanya satu kali sehari. Pukul 08.00 WITA berangkat dari Nusa Penida ke Bali, lalu kembali ke Nusa Penida pada pukul 12.00 WITA. Kapal ini akan berlabuh di Desa Batu Nunggul. Jadi, untuk kalian yang berencana menginap di Nusa Penida dan membawa motor sendiri, kalian boleh memakai transportasi ini. Tapi bila tidak, bisa memakai transportasi lain yaitu fast boat.

-       Fast boat mengangkut penumpang ke Nusa Penida melalui Pantai Sanur. Waktu perjalanan dengan fast boat dari Sanur lebih singkat, sekitar 45 menit. Oleh karena itu, jadwal pulang pergi dengan fast boat lebih banyak, sampai 3 kali sehari. Pagi, siang dan sore, dengan biaya Rp.75.000 sekali perjalanan. Namun bila kita memakai fast boat, kita tidak bisa mengangkut motor atau mobil seperti fery. Tapi tenang saja, begitu sampai di pelabuhan yang ada di Desa Batu Nunggul atau Ped, ada banyak motor yang bisa kita sewa selama menjelajah Nusa Penida.

-       Nah, setelah sampai di Nusa Penida, transportasi yang kita pakai adalah motor. Sebenarnya disana juga tersedia rental mobil, namun perjalanan akan lebih praktis bila memakai motor, karena lebar jalan di Nusa Penida tidak besar. Hanya sekitar 4-5 meter. Jalannya juga masih berbatu, tidak banyak jalan yang sudah diaspal. Dan ketika kita menuju tempat wisata nantinya, medan yang akan kita lalui berupa tanjakan dan turunan. Selain itu, menggunakan motor juga lebih murah.

-       Oh iya, berkenaan dengan motor, kita juga akan memerlukan bensin. Karena Nusa Penida merupakan pulau kecil, pasokan bensin yang masuk terjadwal. Sekitar seminggu sekali. Di hari-hari biasa terdapat banyak warung yang menjual eceran, namun tetap saja terkadang sering habis sebelum jadwal kedatangan bensin dari Bali. Ini juga harus kita perhatikan nantinya sesampai di Nusa Penida.

-       Selain bensin, kita juga harus memperhatikan kesiapan kendaraan. Seperti yang aku bilang tadi, medan yang akan kita lalui bisa berupa bebatuan. Oleh karena itu setiap rental motor kita bisa tanya bagaimana prosesnya bila di tengah jalan ban motor kita bocor atau mogok. Sekedar informasi, Nusa Penida itu masih sepi. Paling banyak warga berada di kota atau daerah pesisir pantai. Dan daerah yang akan kita kunjungi nantinya tidak jarang yang berada di pelosok. Jadi sangat penting untuk menanyakan kontak yang bisa kita hubungi saat kita tidak bisa menemukan bengkel atau tukang tempel ban.

2.      Perlengkapan

-       Berhubung kendaraan yang kita gunakan adalah motor, ada baiknya kita membawa helm. Memang, di Nusa Penida nanti kita tidak akan menemukan polisi lalu lintas yang akan menilang kamu ketika ketahuan tidak pakai helm, tapi tetap saja keamanan yang utama kan?

-       Topi, masker, kacamata. Tiga hal ini sangat penting, terutama ketika berkendara apalagi saat tidak memakai helm. Menurut pengamatanku sendiri, keadaan Nusa Penida seperti daerah bukit Jimbaran yang ada di Bali. Pada saat bulan Agustus kemarin, daerahnya gersang dan panas. Banyak debu ketika berkendara, sehingga topi dan masker penting. Selain untuk berkendara, kacamata hitam  juga bisa dibuat untuk gaya. Jadi jangan lupa membawa kacamata favoritmu.

-       Bagi kamu yang takut kulitnya hitam, kamu bisa membawa jaket atau baju tangan panjang. Tapi untuk yang suka kulit eksotis, aku rasa tidak perlu. Banyak kok bule disana yang bahkan hanya memakai tank top dan celana pendek ditengah teriknya matahari. Di Nusa Penida kita akan banyak mengunjungi pantai dan laut, jadi jangan lupa juga untuk membawa baju renang mu yaa..

-       Selanjutnya adalah uang. Pengeluaran di Nusa Penida untuk berkunjung ke tempat wisatanya tidak terlalu mahal. Hanya beberapa tempat yang dikenai biaya, selebihnya kamu bebas untuk masuk. Namun bila ingin melakukan kegiatan seperti snorkling ataupun diving, kamu akan dikenai biaya. Untuk penginapan, kamu bisa bebas memilih sesuai harga yang ditawarkan. Harga berkisar dari Rp. 60.000 - Rp.300.000an keatas per-malamnya. Untuk harga makanan juga tidak terlalu mahal. Tenang saja, aku juga akan mengajak kalian semua untuk mencoba makanan khas di daerah ini.

-       Satu lagi yang tidak boleh lupa dibawa adalah alat untuk mengabadikan moment, apalagi kalau bukan kamera beserta segala perlengkapannya. Kamera HP, SLR, GoPro, tongsis, lensa fisheye, tripod, handycam, apapun itu jangan lupa dibawa untuk mengabadikan keindahan alam yang akan kita kunjungi nanti.

Liburan di Nusa Penida bisa dikatakan seperti petualangan. Jalan yang menanjak dan berbatu, bukit gersang, matahari yang terik, tapi itu semua menarik bagi yang punya jiwa petualang. Pulau kecil yang terbatas, tidak ada KFC, Mcd apalagi Pizza Hut. Tidak ada mall apalagi bioskop 21. Tapi semua hal itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keindahan alam yang akan kita nikmati nantinya. YUK BERANGKAAT!! Lihat perjalanan selanjutnya disini,
Share:
Read More